Chapter 1 – The Missing Thing

img_pod_0709-picture-of-the-day-fifa-football-raining

20 Juni 2013

Siang ini Tuhan kembali menurunkan hujannya di kota Jakarta, menghilangkan panas dan debu untuk sejenak. Beruntung urusan di kedutaan bisa cepat kuselesaikan sehingga aku sudah tiba di rumah ini sebelum hujan turun. Membuatku terbebas dari kuyup akibat tumpahan air dari langit.

Sembari menikmati romantisme hujan aku duduk di teras depan rumah, lengkap dengan sajian teh manis yang masih mengepulkan asap dan gorengan yang aku beli di perjalanan pulang tadi. Bau khas air hujan yang menyentuh tanah membuat pikiranku bernostalgia, membawa ingatanku melayang ke masa 2 dekade silam, saat diriku dikenal sebagai ‘The England Prodigy’. Tak banyak pemain bola yang mendapat caps pertama di tim nasional saat belum genap 17 tahun. Namun, itulah aku!

1991

Musim dingin tahun ini benar-benar berbeda dari biasanya. Bukan karena suhu atau faktor cuaca lain, tapi karena aku baru saja menerima informasi bahwa aku akan bermain untuk tim utama! Sesuatu yang mungkin tak pernah melintas sama sekali dalam pikiran pemain seusiaku.

Cerita bermula ketika klub kesayanganku, Tottenham Hotspur, mengalami krisis striker akibat cedera di masa-masa paling sibuk liga Inggris. Sebuah kesialan yang sangat menyedihkan, bukan hanya karena tim menjadi kekurang pemain tapi juga karena manager harus bersabar untuk mendapatkan pemain baru di bursa transfer musim dingin yang baru dibuka 1 bulan lagi. Tak ada pilihan lain selain memanfaatkan pemain dari tim reserve atau tim junior. Dan salah satu pilihan manager jatuh padaku, seorang pemain muda yang sedang menjadi top skor sementara di liga junior.

Sudah satu minggu aku ikut berlatih dengan tim utama ketika namaku terpampang di daftar pemain yang dipilih manager untuk pertandingan besok. Walau hanya sebagai cadangan namun itu sudah cukup bagiku. Apakah aku akan dimainkan atau akan tetap di bangku cadangan hingga peluit akhir itu terserah manager, yang jelas aku harus selalu siap untuk memberikan yang terbaik bagi klub.

Pertandingan baru berjalan 60 menit ketika manager memintaku untuk melakukan pemanasan. Tak lama setelah itu dia memberikan beberapa instruksi kepadaku. Dan di menit 70 untuk pertama kalinya aku resmi bermain di kompetisi teratas di Inggris, 1 bulan sebelum ulang tahunku yang ke enam belas!

Debut, gol, dan kemenangan, tiga hal terbaik sebagai hadiah natalku tahun ini. Performa bagusku di bulan Desember berhasil meyakinkan bos untuk tetap memainkanku hingga akhir musim.

1992

Mungkin tahun ini adalah tahun terbaik dalam hidupku. Setelah setengah musim bermain dengan gemilang untuk tim utama, aku mendapatkan panggilan tak terduga dari Mr. Graham Taylor. Walau hanya untuk sebuah pertandingan eksibisi melawan negara yang tak punya tradisi sepak bola yang kuat namun panggilan ini benar-benar membuatku melayang ke langit ke tujuh.

Aku tak tahu apa yang ada di pikiran Mr. Graham Taylor hingga mau memanggilku. Mungkin kegagalan Inggris untuk bermain di Euro Cup tahun ini membuatnya ingin mencoba semua pemain yang tersedia. Atau mungkin juga karena menurutnya aku memang cukup bagus untuk bermain bagi tim nasional. Entahlah, apa urusanku untuk memikirkan semua itu? Yang terpenting adalah aku harus selalu siap untuk memberikan yang terbaik bagi klub.

Sukses mencetak hattrick dalam caps pertamaku, Mr. Taylor memasukkan namaku dalam skuad sepanjang kualifikasi Piala Dunia 1994.

Kesuksesan musim lalu di klub juga masih berlanjut untuk musim 1992-1993. Walau Spurs bermain buruk di musim lalu dengan hanya bertengger di peringkat 15, duet pelatih baru, Mr. Livermore dan Mr. Clemence, tetap memberikan kepercayaan padaku untuk bermain di tim utama. Dan semua itu kubalas dengan permainan gemilang dan membawa The Lilywhites ke peringkat sembilan di musim pertama Premier League.

1993

Petaka. Satu kata yang cukup menggambarkan bagaimana aku menutup perjalanan di tahun ini.

Pada awalnya semua berjalan baik-baik saja untukku, baik di klub maupun di timnas. Klub kembali melakukan pergantian manager. Kali ini board menunjuk seorang legenda klub, Mr. “Ossie” Ardiles, untuk menjadi manager. Posisiku sebagai pemain muda potensial tetap aman di klub ini. Perjalanan Inggris di kualifikasi pun juga tidaklah buruk.

Namun itu semua berubah di bulan Oktober, tepatnya 13 Oktober.

Hingga menit 50 skor pertandingan masih sama kuat, 0 – 0. Jika kami berhasil menahan seri Belanda, maka peluang Inggris untuk bermain di US sangat terbuka lebar karena pertandingan terakhir hanya menyisakan San Marino sebagai lawan kami. Namun petaka datang di menit ke-58. Sebuah tekel membuatku harus ditarik ke luar. Tak lama setelah itu Belanda berhasil mencetak gol ke gawang kami.

Aku tak menyaksikan lagi bagaimana kelanjutan pertandingan setelah itu karena aku harus dibawa ke RS untuk pemeriksaan lebih lanjut. Hasilnya? Dokter mengatakan karirku sebagai pemain bola sudah selesai. Aku terkejut. Tak lama setelah itu aku mendapatkan kabar bahwa Inggris kalah 2 – 0. Peluang kami menipis.

13 Oktober 1993. Hari yang benar-benar sial bagiku. Karirku usai dan begitu juga dengan peluang Inggris bermain di Piala Dunia. Aku benar-benar terpuruk ke titik nadir.

1994

Kondisi mental dan fisikku perlahan membaik. Aku memutuskan untuk meninggalkan dunia sepak bola dan tanah Britania. Aku tidak tahu apakah keputusan ini hanya sementara atau berlaku sepanjang sisa hidupku. Yang jelas saat ini aku memutuskan untuk mengambil studi di bidang bisnis dan manajemen di USA.

DUARR… Gelegar halilintar berhasil memecah lamunanku. Hmm… beberapa jam telah berlalu sejak aku terjebak dalam ingatan masa laluku. Hujan semakin deras, air pun semakin meninggi. Semoga Jakarta tidak banjir, esok cuaca kembali cerah, sehingga perjalananku ke London juga akan lancar. Ya, besok aku akan pulang ke London dan aku sudah tak sabar untuk segera tiba di sana dan melepas kerinduan. Kerinduan yang benar-benar telah menyesakkan dadaku. Bukan kerinduan akan kampung halaman, tapi…kerinduanku pada SEPAK BOLA.

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s