Chapter 2 – The Revival

23 Juni 2013

Hoaamm…
Mendadak aku terbangun akibat terpaan sinar matahari musim panas yang masuk dari celah jendela hotel. Kulirik jam yang ada di samping tempat tidurku. Ternyata sudah pukul 11. Hmm… pantas saja matahari sudah meninggi, gumamku.

Segera aku bangkit dari tempat tidurku. Setelah memesan makanan melalui room service, aku beranjak menuju ke balkon. Di balkon kepalaku berputar memandang Stockport ke segala arah. Tampak di kejauhan Stockport Viaduct yang membentang di sisi lembah Sungai Mersey. Stockport, salah satu distrik yang ada di kawasan Greater Manchester, yang mulai dari kemarin mungkin akan menjadi bagian tak terpisahkan dari diriku.

Entah mengapa tubuhku sama sekali tak merasakan letih setelah perjalanan panjang selama 16 jam Jakarta – London. Padahal sesampainya di London aku langsung mengikuti pertemuan dengan dewan direksi. Pertemuan yang mempertemukanku dengan bagian diriku yang hilang selama dua dekade ini. Sepak bola.

Pikiranku coba menyusun kembali kepingan-kepingan pertemuan tadi malam. Pertemuan itu dibuka dengan pernyataan singkat dari Mr. Sammy Bowes, sang Chairman. Mr. Bowes kemudian memperkenalkan Paul, temanku saat di USA, sebagai investor baru klub kepada seluruh peserta rapat.

Paul Casson, orang yang memperkenalkanku dengan Timo Scheunemann atau yang akrab dipanggil Coach Timo. Coach Timo lah yang membuatku kembali bergairah terhadap sepakbola. Coach Timo jugalah yang menyarankanku untuk mengambil lisensi kepelatihan UEFA. Sebuah saran yang lalu kujalankan dengan penuh kepatuhan.

Pada awalnya aku hanya berniat mengikuti jejak Coach Timo untuk mengembangkan sepak bola di Indonesia, namun sebuah telepon dari Paul mengubah niatku. Awal tahun ini saat Jakarta mengalami banjir tahunan, Paul memberitahuku bahwa dia sedang memulai proses investasi di sebuah klub kecil yang berlaga di Liga Konfrensi asal Manchester.

Awalnya aku berpikir bahwa itu hanya sebuah investasi biasa. Namun ketika aku mendengar penjelasannya selanjutnya membuatku ternganga. Bagaimana tidak ternganga, jika ada orang yang menginginkan sebuah klub kecil yang bermain di kasta keenam untuk menaklukan dunia. Saat itu kukira dia hanya bercanda, akan tetapi setelah mendengar rencana-rencananya aku jadi yakin bahwa dia serius dan ikut serta menuangkan ide-ide brilian. Dan hal itu pula yang kembali dipaparkannya di pertemuan tadi malam.

Reaksi dewan direksi dan staf sama seperti reaksiku pertama kali saat mendengat ide gilanya. Dan Paul kembali berhasil meyakinkan orang-orang di ruangan itu untuk menerima gagasannya. Namun, itu tidak lama. Hahaha…aku tak bisa menahan tawa jika mengingat kejadian tadi malam. Semua orang memasang ekspresi yang lebih terkejut lagi ketika Paul mengatakan bahwa aku, Habib Mustaqiem, adalah orang yang dipercayanya untuk mewujudkan semua gagasannya tadi.

Sepertinya semua orang di ruangan itu pada awalnya mengira bahwa aku hanya akan duduk sebagai dewan direksi atau paling tidak Director of Football. Dan wajar saja jika mereka tidak percaya pada kemampuanku, seorang mantan pemain bola yang pensiun di usia muda akibat cedera lalu pergi meninggalkan dunia sepak bola dan diisukan depresi. Tantangan besar datang dari Mr. Ryan McKnight, sang Managing Director. Penjelasan Paul pun tak cukup untuk meyakinkannya.

Hingga akhirnya Paul memintaku untuk menjelaskan rencanaku sendiri. Semua aspek sepak bola, mulai dari pemilihan staf kepelatihan, rencana transfer jangka panjang, scouting, pembinaan pemain muda, peningkatan fasilitas, hingga sponshorship, kujelaskan kepada mereka dalam waktu hampir 1 jam. Syukurlah itu cukup meyakinkan Mr. McKnight dan yang lainnya. Pertemuan itu ditutup dengan kesepakatan bahwa selain menjadi manager klub aku juga diberi kekuasaan yang cukup besar dalam menentukan jalannya klub ini, termasuk ikut dalam rapat-rapat dewan direksi.

Ting tong…

Bel pintu berbunyi. Itu pasti makanan yang telah kupesan. Aku setengah berlari menuju pintu menyambut makanan yang akan memenuhi perutku yang telah bergejolak sejak tadi. Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang sibuk juga untukku. Mencari rumah, mengunjungi klub, berbelanja kebutuhan, sederet agenda yang kuyakin akan membuatku kembali tidur larut malam ini. Tapi tak apalah, kuharap antusiasmeku akan tetap bisa memberiku energi lebih hari ini. Stockport, I’m coming…

Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s